
Oleh: Muhammad Nuriman, SP, M.Si *)
DOSEN-dosen Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura (Faperta Untan) Pontianak memberikan pendampingan ke para petani di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).
Pendampingan ke petani ini untuk mencapai hasil ketahanan pangan yang lebih baik. Salah satunya dengan meninjau langsung dua lokasi yang sistem pertaniannya berbeda.
Kedua lokasi tersebut sama-sama di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, yakni di Gang Melati dan Kampung Jawa.
Pendampingan semacam ini diperlukan, supaya para petani mengetahui kesalahannya dalam membudidayakan tanaman, terutama padi.
Lantaran petani itu secara umum dalam praktiknya melanjutkan kebiasaan sebelumnya, secara turun temurun. Mungkin sudah ada yang memahami cara mengatasi masalah saat bercocok tanam, tetapi tidak sesuai dengan permasalahan.
Di lokasi pertama yang didatangi para Pendamping Patriot Pangan dari Faperta Untan Pontianak ini, masih berupa tanaman padi lokal.
Di situ mereka seperti keracunan besi. Kita telusuri penyebabnya. Ternyata tata airnya tidak ada untuk membuang besi-besi itu.
Para petaninya pun hanya memberi pupuk urea untuk tanaman padinya. Itu hanya menyediakan nutri nitrogen. Sehingga terlihat daun padinya kelebihan nitrogen.
Kelebihan nitrogen karena hanya memberikan pupuk urea ini, akan memancing hama penyakit untuk memakan tanaman.
Karena tidak pernah diberikan pupuk, nampak daunnya kekurangan kalium yang sangat penting untuk padi. Ini menentukan hasilnya, produktivitasnya.
Kendati pupuk banyak diberikan, apabila kondisi tanahnya masih masam, maka tanaman tersebut tetap tidak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Sementara lokasi kedua yang didatangi para pendamping dari Faperta Untan ini, para petaninya menanam padi hibrida varietas unggul, menggunakan sistem pembajakan, olah tanah.
Tata airnya juga dijaga, para petani di kampung Jawa ini menerapakan sistem intemediate, yakni ada saat digenangi, ada saat dikeringkan. Pupuk yang mereka berikan juga lebih komplit.
Bukan berarti pertanian di Kampung Jawa Desa Kuala Dua yang lebih modern ini tidak memiliki kelemahan. Hasil penijauan, ternyata mereka tidak memberikan dolomit.
Namun, dampaknya sudah bisa teratasi dengan pengelolaan tata air. Sehingga racun-racun yang mungking dihasilkan dari besi itu bisa diatasi.
Dari visual hasil tanamannya, pertanian di lokasi kedua ini lebih baik ketimbang lokasi pertama yang didatangi.
*) Koordinator Pendampingan Patriot Pangan dan
Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Untan
