
HAMPIR ratusan dosen Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak mengikuti pelatihan penyusunan karya tulis ilmiah, seperti buku referensi, buku ajar, monograf dan artikel jurnal internasional.
Pelatihan penyusunan karya tulis ilmiah untuk para Dosen Faperta Untan Pontianak ini digelar di Hotel Orchard, Jalan Perdana Kota Pontianak, Rabu 30 November 2022.
Menurut Wakil Dekan I Faperta Untan Pontianak, Dr Dra Eva Dolorosa MM MSc, pelatihan ini erat kaitannya dengan tugas-tugas dosen, seperti membuat Buku Referensi, Buku Ajar, Monograf dan Artikel di Jurnal Internasional.

“Tujuannya, supaya dosen-dosen memahami apa yang bedanya antara buku referensi, buku ajar dan monograf,” ujar Eva Dolorosa, ditemui usai pelatihan secara hybrid ini.
Terkait beberapa jenis karya ilmiah itu, kata Eva, selama ini masih dianggap ada kerancuan. Tetapi melalui pelatihan ini, semuanya menjadi jelas berkat penjelasan dari narasumber yang dihadirkan.
“Melalui pelatihan ini, kita menjadi lebih memahami perbedaan antara buku referensi, buku ajar, monograf dan artikel internasional,” ucap Eva.
Dalam kesempatan kali ini, para dosen Faperta Untan Pontianak juga diingatkan terkait penulisan artikel di jurnal internasional. “Itu sangat penting sekali. Apalagi sekarng ini banyak jurnal predator,” tutur Eva.
Jurnal predator adalah jurnal internasional yang dalam proses penerbitannya tidak didapati proses konfirmasi ilmiah atau kualitasnya diragukan.
“Tadi kita mendapat informasi tentang bagaimana cara mengidentifikasi jurnal predator, supaya kita tidak terjebak, tidak mengirim karya ilmiah kita ke jurnal tersebut,” kata Eva.
Kalau dosen kosong mengirim karya ilmiahnya ke jurnal predator, maka tidak akan diakui dan tidak bisa mendapat poin kredit untuk kenaikan pangkat golongan.
“Itu akan sangat menguras tenaga dosen, sudah capek-capek penelitian ternyata salah kirim, ke jurnal yang tidak diakui sama sekali oleh Dikti,” papar Eva.
Melalui pelatihan ini, lanut Eva, para dosen tentunya memahami tentang hal-hal yang dapat menyebabkan hilangnya legitimasi karya tulis. “Kalau untuk masalah substansi penulisan, saya kira dosen-dosen sudah pada tahu,” pungkasnya.(*)
